iklan-banner-01
iklan-banner-02

JENDERAL INISIATOR DI HATI RAKYAT MALUKU

Pangdam XVI Pattimura Mayjen TNI Doni Monardo, sang inisiator.
Doni Monardo, Mayor Jenderal TNI Angkatan Darat ini adalah salah satu Jenderal terbaik TNI saat ini. Kiprahnya sebagi Pangdam XVI Pattimura 2 tahun 3 bulan, telah menyisahkan prestasi yang luar biasa. Pendekatan stabilitas Keamanan berbasis Kesejahteraan, adalah model pendekatan unik dalam manunggal TNI rakyat. Doni Monardo Akan Menjadi Jenderal yang selalu dikenang dan terpatri di Hati Rakyat Maluku karena prestasinya.
Catatan : A. AZIZ HENTIHU. SE Wakil Ketua DPRD Buru - Raja Petuanan Leisela Pulau Buru.

Sesaat setelah Mayjen Doni Monardo di Promosikan menjadi Pangdam Pattimura, Pengamat Militer dan Intelijen Susaningtyas H. Kertopati ditanya pendapatnya soal Posisi Pak Doni, dan jawabnya “ Pak Doni menjadi Pangdam Pattimura, Saya Rasa Pimpinan AD melihatnya Positif terutama buat Maluku karena Doni dikenal sebagai Tentara yang sangat kreatif dan bertangan dingin karena Maluku kerap rawan konflik sosial. Doni juga punya jaringan bagus tentu baik bagi Pengembangan Kodam Pattimura kedepan ” ungkapnya, kepada detik.com Selasa (28/7/2015).

Dan ternyata benar Mayjen Doni Monardo kreatif dan bertangan dingin, dengan melihat potensi kekayaan alam yang begitu besar baik darat maupun di laut Maluku, Doni langsung tancap gas mencanangkan Program Emas Biru dan Emas Hijau yang dalam sebuah diskusi bersama Pak Doni beliau katakan dapat bermuara pada Emas Putih (Kedamaian orang maluku). Program Emas Biru berfokus pada bidang Kelautan dan Perikanan, juga Emas Hijau meliputi bidang Pertanian, Perkebunan, Kehutanan dan Peternakan, Dua program di lakukan bekerjasama dengan beberapa BUMN seperti BRI.

Ada hal menarik lainnya bahwa seminggu setelah Mayjen Doni Monardo menjabat pangdam Pattimura saya di hubungi via telepon oleh Ahmad Fahrial, Senior saya di DPP PPP yang juga anggota Komisi VII DPR RI “Dinda, Sahabat sekaligus saudara saya Mayjen Doni Monardo menjadi Pangdam Pattimura, Kamu Temui Pak Doni dan ajak diskusi, Doni tentara yang berkarakter dan berintegritas Kuat. Jaringannya luas, terkadang seperti Aktivis Pecinta Lingkungan dan memiliki hobby bertanam, beliau juga adalah pembina Yayasan Budi Asih Jakarta yang fokus untuk program penghijauan di Indonesia. Maluku Harusnya Bersyukur dapatkan Mayjen Doni ”. Ternyata kemudian apa yang disampaikan Ahmad Fahrial benar setelah adanya dalam satu kesempatan Mayjen Doni mengatakan bahwa dia jatuh Cinta sama Pepohonan sejak diselamatkan sebatang pohon saat berlindung dan menyelamatkan diri dari gempuran dan tembakan membabi buta oleh milisi fretilin di timor-timor.

Di Saat baru saja menjabat tepatnya di Bulan Agustus tahun 2015 Pak Doni menggelar kegiatan Penghijauan untuk perdamaian di Desa Morela dan beberapa desa lainnya di Kecamatan Leihitu dengan melibatkan warga bersama Yayasan Budi Asih Jakarta dalam Pembibitan tanaman Pala, Cengkeh. Kayu samama dll di atas lahan seluas 2000 meter persegi. Di Bulan September 2015 di lanjutkan Pelatihan budidaya kelautan, perikanan dan kehutanan bertempat di Batalyon Raider 733 yang diikuti oleh 100 peserta dari masyarakat, TNI dan Polri. Kemudian dilanjutkan dengan melatih 150 peserta keterwakilan masyarakat dari Maluku dan Maluku Utara.

Setelah pelatihan seluruh peserta diberi benih ikan dan bibit atau anakan pohon buah dan rempah. Dalam dua tahun tercipta 160 petak keramba di Pulau Ambon dan Seram, dengan budidaya 58.980 ekor benih ikan kakap, ikan kerapu dan ikan bubara. Dilakukan pula pembibitan berbagai jenis pohon yakni 13.404 bibit pohon keras, 19.491 buah-buahan, dan 14.669 rempah-rempah.

Kini di ujung masa Jabatan beliau sebagai Pangdam XVI/Pattimura sudah Ratusan Program kerja pembibitan dan penanaman, yang melibatkan Ratusan ribu anakan Pohon yang bernilai ekonomis termasuk penanaman ratusan ribu anakan pohon dan buah - buahan termasuk perluasan ribuan hektar sawah warga di Pulau Buru.

Upaya ini disebut Doni sebagai Serbuan Teritorial. Sebuah diksi yang menarik, karena serbuan teritorial bersifat invasi kegiatan militer berbasis penguasaan wilayah. Melalui Doni, serbuan teritorial bermakna ekologis dan ekonomis melalui pemanfaatan potensi sumber daya alam daerah, yang melibatkan masyarakat, TNI dan Polri. Sebuah cara tidak lazim, karena selaku Pangdam, Doni hanyalah pemimpin struktural teritorial TNI di daerah.
Dalam perkembangannya, kegiatan ini diapresiasi pemerintah dan swasta. Dukungan pun meluas. Program ini ikut dibantu oleh BUMN dengan melibatkan Pertamina, Telkomsel, dan BNI. Dan apa yang dilakukan Doni, apabila dilakukan secara terpadu dan terarah, akan berdampak pada meningkatnya pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, sehingga dapat memacu menurunnya angka kemiskinan di daerah.

Dengan melibatkan bukan hanya TNI dan masyarakat, namun juga anggota Polri, Doni telah meletakan dasar-dasar kerjasama pembangunan kesejahteraan dan keamanan yang harmonis. Pendekatan ini akan mengurai kesenjangan determinan faktor keamanan pada kebakuan relasi formalistik lembaga, menjadi relasi sosio ekonomi yang strategis, dalam pendekatan keamanan dan teritorial.

Di Hati Rakyat Maluku

Inisiasi yang luar biasa, yang dilakukan Doni, membuatnya akan dikenang rakyat Maluku dan Maluku Utara. Cipta karya seorang jenderal TNI, yang tidak hanya melihat isu-isu keamanan pada pendekatan stabilitas, namun juga pada pendekatan kesejahteraan. Apalagi model pendekatan ini, dilakukan oleh pemimpin institusi militer, yang tidak memiliki tugas dan fungsi pokok di bidang kesejahteraan.

Di masa lalu wujud nyata kemanunggalan TNI dan rakyat diprakarsai melalui fungsi sosial politik TNI. Setelah reformasi TNI hanya menjalankan fungsi pertahanan dan keamanan. Karenanya apa yang dilakukan Doni, telah meretas jalan baru bagi kemangunggalan TNI dan rakyat. Tugas ini sedemikian genting dan penting, karena situasi bangsa yang sedang mereposisi dirinya menjadi negara kesejahteraan – welfare state.

Dalam doktrin welfare state, tugas utama negara adalah menyelengarakan kesejahteraan. Semua fungsi badan dan lembaga negara, adalah sarana penciptaan kesejahteraan rakyat. Konteks ini lebih-lebih di negara demokrasi, yang menerima mandat kedaulatan rakyat sebagai episentrum legitimasi publik dan politik bernegara. Maka mandat politik itu, mau tidak mau, akan dikembalikan negara kepada rakyat melalui penyediaan kesejahteraan.

Peran vital TNI dalam menjaga kedaulatan integrasi bangsa, dengan demikian, tidak dapat dihindarkan dari tugas utama bernegara ini. Makanya strategi pendekatan keamanan yang berbasis teritorial, tidak lagi tepat dan perlu dikonversi dengan strategi pendekatan kemananan berbasis humanitas dan kesejahteraan. Ungkapan Mayjen Doni Bahwa setiap gangguan keamanan atau kekerasan yang di sikapi dengan kekerasan pula maka akan menimbulkan kekerasan baru dan tentu berbeda bila gangguan keamanan atau stabilitas di sikapi dengan pendekatan kesejahteraan, karena sering rendahnya kesejahteraan menjadi pemicu gangguan keamanan. Dan Mayjen Doni telah melaksanakan serbuan teritorial untuk keamanan sekaligus kesejahteraan.

Pendekatan ini penting, karena basis pengokohan kebangsaan dan keamanan bernegara tidak lagi bersifat teritorial dan kedaulatan wilayah. Isu disintegrasi teritorial dan sosial justru banyak berhubungan dengan intensitas kesejahteraan dan kemandirian rakyat. Dan salah satu isu penting dari aspek ini adalah soal ekonomi dan energi.

Hal yang sama yang dijelaskan oleh Panglima TNI Gatot Nurmantyo, sebagai peak oil teory. Invasi tidak lagi bersifat militer dan refresif, namun bersifat penguasaan sumber kemandirian ekonomi dan energi. Pendekatan stabilitas keamanan responsif dengan Serbuan Teritorial ala Doni, mungkin akan menjadi model pendekatan baru bagi pemimpin teritorial militer di daerah.
Bagaimanapun inisiasi yang dilakukan Doni, tidak mudah dirumuskan secara program, anggaran dan kelembagaan. Sebab tugas pokok dan fungsi TNI tidak seluas seperti yang dilakukan Doni. Model ini hanya dapat diterapkan melalui inisiasi kreatif, dengan ide-ide kemitraan konstruktif. Dan Doni mampu menerapkan terobosan inisiatif, berkat kemitraan swasta, pemerintah dan masyarakat.

Doni adalah model reposisi TNI yang berkarakter kebangsaan, dan mampu menyesuaikan peran TNI, ditengah kemajuan aspek kebebasan sipil dan variabel demokrasi dan HAM. Beliau mampu menerjemahkan peran TNI yang manunggal sesuai kebutuhan bangsa ini, setelah era Dwifungsi TNI. Sudah saatnya Serbuan Teritorial menjadi blue print—cetak biru---era baru kemanggulan TNI dan rakyat.

Doni lahir di Cimahi 10 Mei 1963 dan lulus Akademi Militer 1985. Pernah menjabat Komandan Jenderal Kopasus dan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden, sebelum ditugaskan sebagai Pangdam Pattimura, 25 Juli 2015. Sejak 27 Oktober 2017, Doni pindah tugas sebagai Panglima Komando Daerah III/Siliwangi.

Terima kasih Jenderal atas Gagasan dan Karya Baktimu. Dari Negeri Adat Petuanan Leisela Pulau Buru, Terimah-lah Rasa Hormat Beta untuk Bang Doni Monardo, Sang Jenderal Inisiator !

Berita terkait