iklan-banner-02
iklan-banner-02

HUTAN SAGU DAN SAGU, QUO VADIS

DALAM suatu kegiatan tv nasional yang mengakses informasi di Brunei Darussalam, ternyata sagu atau papeda menjadi salah satu makanan favorit hotel berbintang lima. Ini kontradiksi dengan asumsi pemikiran masyarakat Maluku saat ini yang mulai menganggap bahwa sagu atau papeda hanyalah makanan sambilan dan bukan suatu makanan lux atau hight lux. Lebih-lebih lagi ketidaktahuan masyarakat maluku termasuk elitisnya tentang kandungan gizi dan kalori yang dikandung oleh sagu. Mayoritas masyarakat kita beranggapan bahwa sagu tidak memiliki nilai gizi signifikan dibanding beras atau terigu walau riset menunjukan fakta yang sebaliknya.
IST
Dengan asumsi demikian kemudian menjadikan sagu menjadi sumber karbohidrat yang kian termarginalkan dan seterusnya berimbas pada kondisi lahan sagu yang kian sempit karena akselerasi pembangunan fisik berupa perumahan. Di samping pemerintah daerah maluku yang tidak peduli dengan sumber hayati sagu sebagai salah satu plasma nuftah lokal yang sepatutnya dilindungi dan dilestarikan dan bahkan perlu terus dibudidayakan secara massal. Ada keuntungan di sini bahwa jika saja pemerintan daerah bisa peduli maka reboisasi hutan dimaluku haruslah dengan menggunakan bibit sagu selain tanaman lainnya. Dengan demikian laju pengrusakan hutan sagu bisa ditekan seminimal mungkin atau minimal impas dengan luas area sagu yang telah hilang di suatu lokasi. Apalagi iklim global yang kian mengekstrim menjadi suatu ancaman bagi keselamatan manusia, maka hutan sagu bisa menjadi sebuah alternatif pelestarian selain sebagai sumberdaya penghasil pati sagu bagi masyarakat maluku dan daerah lainnya. Walau bagimana pun, sagu ternyata membawa peranan penting bagi ketahanan pangan, kemandirian pangan dan kedaulata pangan bagi orang maluku sepanjang sejarah. Bayangkan eksistensi sagu telan turut berperan dalam memenuhi sumberdaya pangan lokal yang kemudian menjadi salah satu inspirasi bagi pembentukan tatanan pranata sosial masyarakat Maluku.

Membawa sagu ke dalam pranata budaya lokal Maluku selama ini turut menjadikan sagu sebagai bagian dari budaya pangan yang telah berlangsung selama ratusan tahun di Maluku. Kita akan temukan dalam kegiatan tradisi orang Maluku semisal di Jazirah Hatuhaha, sagu justru menjadi bagian yang tak terpisahkan dari acara ritualnya, sehingga ada istilah sagu pusaka atau sagu warisan yang tetap eksis dan terpelihara sampai saat ini. Sama halnya di Saparua, sagu telah menjadi satu ikon makanan tradisional khas dari masyarakat lokal Saparua, dan malah di sana masyarakatnya justru mengolah sagu dengan salah satu bentuk khusus yang kemudian disebut sagu love atau tersayang,

Maka seiring dengan kemajuan zaman dan akselerasi kemajuan pembangunan maka sagu harus kembali menjadi sumberdaya potensial penghasil pati dan karbohidrat utama bagi masyarakat Maluku. Untuk hal itu maka pemerintah daerah melalui kebijakan politik haruslah membuat sebuah aturan yang secara khusus mengatur tata pengelolaan dan pemanfaatan lahan sagu secara lestari dengan segenap konsekuensi bagi semua pihak jika tidak mengindahkannya, karena hanya dengan cara itu maka hutan sagu lestari bisa dihadirkan secara nyata di seluruh wilayah maluku sekaligus menjamin kontinyuitas pemanfaatan sagu di Maluku secara lestari. Apalagi program transmigrasi di maluku pada wilayah tertentu justru menjadikan hutan sagu sebagai sasaran pengrusakan atau pembabatan yang entah untuk tujuan pembangunan rumah transmigran atau untuk pembukaan lahan sawah, lebih lagi untuk tujuan ekstensifikasi lahan sawah dalam jumlah ribuan hektar justru akan sangat cepat memicu pemusnahan lahan sagu itu sendiri. Hal ini tentu disebabkan oleh kelemahan daya nalar aparat pemerintah daerah dalam memaknai pentingnya eksistensi sagu atau hutan sagu bagi masyarakat Maluku dan keterkaitannya dengan tradisi lokal Maluku dimana sagu adalah bagian dari menu tradisional dalam satu kegiatan yang tak bisa dipisahkan.

Kini tanggung jawab bersama oleh siapa pun di negeri para raja dan kapitan ini untuk secara totalitas melestarikan hutan sagu demi keberlangsungan anak cucu di masa mendatang. Sagu adalah bagian dari kehidupan orang maluku dan dengan demikian hilangnya sagu berarti terancamnya generasi Maluku di masa mendatang karena hutan sagu tak hanya memegang pranan penting bagi ketersediaan karbohidrat tetapi juga hutan sagu menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam memelihara sumberdaya mata air dan kestabilan lahan sekaligus menjadi salah satu sumberdaya penghasil oksigen dalam tatanan wilayah yang berkonsep pada kestabilan iklim global. (**)


Penulis: Dullah Wassahua, aktivis pemerhati masalah sosial & staf Dinas Ketahanan Pangan Maluku Tengah.

Berita terkait

Berita Populer

iklan-banner-02
iklan-banner-02